Jakarta,
Kepadatan energi didefinisikan sebagai jumlah kalori yang ada dalam setiap
gigitan makanan. Makin banyak makan maka kepadatan energi orang akan tinggi
sehingga membuatnya gampang gemuk. Lalu bagaimana caranya untuk menurunkan
'kepadatan energi' Anda? Menurut Barbara Rolls, Ph.D., Chair of Nutritional Sciences di
Penn State caranya sangat mudah, yaitu perbanyak asupan air Anda. Hal itu bisa
berarti menambahkan sayuran ke makanan, makan salad sebelum makan besar dan
menyiapkan jus buah atau sup sebagai pendamping makan. Makanan yang kaya air
akan memenuhi perut tanpa menambahkan kalori secara berlebihan. Lalu ketika
perut terasa kenyang, tak peduli apapun isinya maka sensor di dalam sistem
pencernaan akan langsung mengirimkan sinyal pada otak bahwa inilah saatnya
untuk berhenti mengunyah atau makan. Jika sudah begini, Anda akan cenderung
mengurungkan niat untuk menambah asupan makanan atau makan dengan pola yang
sembarangan, yang bisa berujung pada penambahan berat badan. "Makin
sedikit kalori yang ada pada setiap gigitan makanan Anda, makin banyak gigitan
yang Anda dapatkan jika diberi makanan dengan jumlah kalori tertentu. Dengan
kata lain jika 'kepadatan energi' Anda lebih rendah itu berarti porsi kalori
Anda lebih banyak," ungkap Rolls seperti dilansir dari menshealth, Jumat (28/9/2012).
Jumat, 28 September 2012
MENGHARGAI WAKTU
Waktu adalah momentum untuk kita mengukir prestasi. Demi
masa…demikianlah Allah bersumpah menegaskan bahwa sesungguhnya manusia pasti
akan merugi kalau tidak memperhatikan waktu kecuali 4 : Orang yang beriman
Orang yang beramal shalih
Orang yang menasehati dalam kebernaran
Orang yang menasehati dalam kesabaran
Sebagaimana firman Allah SWT dalam
Surat Al-Ashr 1-3 :
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu
benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat
menasehati supaya menetapi kesabaran.”
Menyikapi ayat ini Imam Syafi’I
rahimahullah berkata “Seandainya manusia memahami ayat ini cukuplah agama ini baginya..”
apa maksudnya? Surat ini merupakan intisari bahwa hidup adalah kumpulan waktu.
Yang tak mampu menggunakan waktu dialah orang yang dijamin bakal rugi.
Rasululloh Saw bersabda :
Ada dua nikmat dimana banyak orang yang
tertipu dengan keduanya : Nikmat sehat dan waktu luang (HR.Bukhari dari Ibnu
Abbas)
Muhasabah
Waktu
Menurut Nabi, rata-rata umur umatnya
sekitar 60 tahun. Waktu kita sama dalam sehari 24 jam. Cara kita menggunakan
waktu kitalah yang membuat kita berbeda.
Kalau dihitung masing-masing waktu kita
sama : 60 detik dalam 1 menit, 60 menit dalam 1 jam dan 24 jam dalam sehari, 7
hari sepekan dan seterusnya. Namun kata Imam Al Ghazali kalau orang umurnya 60
tahun rata-rata menjadikan 8 jam sehari untuk tidurnya maka dalam 60 tahun dia
telah tidur dalam 20 tahun. Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Dan itulah
kebanyakan manusia mungkin juga kita.
Imam Syahid HAsan Al Banna pernah
mengatakan, “Ketahuilah kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang tersedia,
maka bantulah dengan sebaik-baiknya dan juka anda punya kepentingan atau tugas
selesaikanlah segera.”
Perkataan ini menggambarkan betapa
sedikitnya waktu kita dibandingkan dengan pekerjaan besar yang harus
dikerjakan, amanah yang harus ditunaikan, cita-cita besar yang harus direalisasikan.
Tetapi kita sering merasa tak memiliki kewajiban sehingga banyak waktu yang
dibuang-buang. Ironisnya kita masih sering mengeluh merasa kurang waktu dan
banyaknya tanggung jawab yang menjadi beban padahal kita sendiri yang sering
menyia-nyiakan waktu yang ada.
Kisah
para Ulama besar dalam memanfaatkan waktu mereka :
Imam Syafi’I, beliau membagi waktu
malamnya menjadi tiga yakni sepertiga pertama untuk menulis ilmu, spertiga
kedua untuk shalat malam, dan sepertiga ketiga untuk tidur.
Abu Hurairah, beliau dan keluarganya
menghidupkan malamnya menjadi tiga. Sepertiga pertama ia berjaga sambil
shalat,kemudian seprtiga kedua istrinya yang berjaga sambil shalat kemudia
sepertiga yang terakhir oleh anaknya.
Oleh karena itu marilah kita
menafaatkan sebaik-baiknya waktu kita untuk berbagai amal sholeh untuk akhirat
maupun untuk bekerja dalam meraih kebahagiaan dunia. Jangan sampai waktu kita
terbuang untuk hal-hal yang sia-sia apalagi untuk berbuat dosa.
Rabu, 26 September 2012
Berhentilah Sejenak di Terminal Kehidupan
“Marilah kita beriman sejenak. Sesungguhnya
hati lebih cepat berbolak-balik daripada isi periuk yang sedang menggelegak”
(Ibnu Rawaahah, kepada Abu Dardaa’)
Bobby De Porter dalam bukunya Quantum
Learning memberikan satu tips penting dalam teknik membaca. Dia berkata, agar
apa yang kita baca melekat di benak, maka perbanyaklah jeda saat
membaca. Hal ini terkait hasil penelitian tentang cara kerja otak di
mana otak kita memiliki kemampuan menerima informasi yang penuh (100%)
saat pertama kali membaca, namun akan terus berkurang selama proses membaca
tersebut.
Memang demikianlah adanya. Kita manusia
penuh dengan keterbatasan. Otak yang seringkali mampu menemukan banyak kejadian
luar biasa pun memerlukan jeda untuk kemudian bisa kembali bekerja.
Bukan hanya otak (akal) saja yang
membutuhkan jeda. Raga dan jiwa, sebagai elemen yang ada pada diri manusia,
juga membutuhkannya. Saat seseorang memekerjakan raganya terus-menerus, pasti
akan ada saatnya rasa lelah, letih, penat datang sebagai sinyal yang
mengarahkannya untuk berhenti sejenak.
Berhenti sejenak bukan berarti
mematahkan langkah dan menjauhkan dari tujuan. Berhenti sejenak berbeda dengan
diam. Karena ibarat berkendaraan, berhenti sejenak dapat menghilangkan kantuk
dan memulihkan kembali stamina tubuh. Ia seperti halnya seekor burung
yang hinggap di pepohonan, menghimpun tenaga untuk kemudian kembali
terbang lebih jauh. Sama halnya dengan kereta yang berhenti di setiap stasiun
untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, mengisi bahan bakar, mengecek mesin
agar perjalanan selamat hingga ke tujuan. Ibarat musafir yang beristirahat
seraya mencocokkan arah kompas, mengukur peta dan memeriksa bekal
perjalanan.
Begitu pentingnya jeda dalam kehidupan
ini, sehingga Rasulullah saw tidak menyudutkan Hanzalah atas segenap perasaan
yang ditumpahkan kepada beliau saat merasakan aroma kemunafikan yang
menghinggapinya.
“Ketika aku bersamamu ya Rasulullah,
aku merasakan seolah-olah syurga dan neraka itu sangat dekat. Lantas air mataku
mengalir. Tapi, di rumah aku bersendagurau bersama anak-anak dan isteriku .
Tidakkah aku ini seorang munafik ya Rasulullah?”, ujar Hanzalah.
Rasulullah tersenyum, lalu
bersabda,“Demi yang jiwaku di tanganNya andai kalian tetap seperti kalian di
sisiku dan terus berdzikir niscaya para malaikat akan berjabat tangan kalian,
sedang kalian berada di atas tempat tidur dan di jalan raya, akan tetapi wahai
Hanzalah, ada waktumu (untuk beribadah) dan ada waktumu (untuk duniamu)”. – HR.
Muslim
Pada suatu hari, Salman bermaksud
hendak mematahkan niat Abu Darda untuk shaum sunnah esok hari. Dia
menyalahkannya, “Apakah engkau hendak melarangku shaum dan shalat karena
Allah?” kata Abu Darda. Salman menjawab, “Sesungguhnya kedua matamu
mempunyai hak atas dirimu, demikian pula keluargamu mempunyai hak atas dirimu.
Di samping engkau shaum, berbukalah dan di samping melakukan shalat, tidurlah!” Peristiwa
itu sampai ke telinga Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Sungguh Salman telah
dipenuhi dengan ilmu”.
Begitu pula dengan kehidupan Rasulullah
saw sendiri. Kita pernah mendapati kisah beliau yang menyaksikan permainan
tombak dari kaumHabsyi bersama Aisyah ra . Dan beliau juga, suatu ketika,
melakukan lomba lari bersamanya.
Sungguh, berbagai kisah di atas
memberikan gambaran kepada kita bahwa Rasulullah saw dan para shahabat memenuhi
hari-hari mereka dengan ibadah kepada Allah SWT. Dan di antara kesibukan
beribadah itu, mereka sempatkan untuk mengambil jeda menghibur jiwa
bersama orang-orang yang dicinta.
Sekarang, marilah kita tengok kehidupan
kita. Akankah kita melakukan jeda dari segenap kesibukan duniawi untuk kemudian
bermunajat kepada Allah, menanamkan kembali rasa syukur atas setiap curahan
rahman dan rahimNya yang telah lama kita abaikan? Akankah kita merasa perlu untuk
berhenti sejenak menghisab diri untuk kemudian bertaubat menyungkur sujud
kepada Sang Khaliq, meraih kembali kekokohan iman yang kini sudah kian rapuh?
“Yaa Bilal, arihna bi shalaah.”
Demikian kata Rasulullah saw kepada Bilal. “Wahai Bilal, istirahatkan kami
dengan shalat.’ Dan, Rasulullah pun mengistirahatkan diri dengan shalatnya,
merasakan kesejukan dan kesenangan di dalamnya, sebagaimana pula sabda beliau,
“Dan Allah menjadikan qurratul ‘ain (sesuatu yang menyejukkan dan
menyenangkan hati) bagiku pada (waktu aku melaksanakan) shalat.”
AYAH IBU KASIH SAYANGMU TAK PERNAH PADAM
Coba berhenti sejenak dari aktifitas
kita, lalu bayangkan wajah kedua orang tua kita. Wajah Ayah dan Ibu kita. Wajah
yang paling bikin kangen di seluruh dunia, iya apa iya banget?
Bagi sahabat yang masih memiliki
keduanya di dunia ini, bersyukurlah, karena banyak sekali sahabat kita yang
entah Ayahnya atau Ibunya atau bahkan keduanya telah berpulang ke sisi Sang
Pemilik Jiwa dan Raga ini. Bersegeralah membahagiakan keduanya, membalas
jasa-jasa mereka yang telah mencurahkan kasih sayangnya tanpa henti, sejak kita
terlahir di muka bumi ini.
Jadi inget cerita seorang sahabat yang
baru melahirkan anak pertamanya. Ketika pertama kali wajah paling cantik itu
menyapa wajah ayah ibunya dengan tangisan, maka hati ayah ibunya akan
terselubungi rasa ‘asing’ yang belum pernah terasa sebelumnya. Bercampurlah
rasa syukur yang teramat sangat, rasa bahagia, rasa haru, rasa khawatir, rasa
lega dan jutaan rasa lainnya. Rasa ini berlipat terasa pada seorang Ibu, karena
ikatan emosional yang teramat sangat telah terjadi selama 9 bulan sebelumnya.
Ketika pertama kali menatapi wajah
cantik itu sedang lelap tertidur, pikiran ayah ibunya pasti menerawang, akankah
bisa mereka memberikan kebahagiaan dan ilmu yang cukup baginya sehingga ia bisa
melewati dunia yang semakin keras ini. Kembali, rasa syukur dan rasa khawatir
bercampur di dalam hati ayah, terlebih di dalam hati ibunya.
Ketika pertama kali tubuh cantik itu
merasakan sakit, maka di dalam doa ayah ibunya pasti mengucap “Wahai Pemilik
Alam Semesta, jika boleh aku memohon, pindahkan sakit anakku kepadaku, biarlah
aku yang menanggungnya, aku rela..” Dan hilanglah keinginan ayah, terlebih
keinginan ibunya untuk istirahat, karena rasa cinta kepada sang buah hati
melebihi rasa letih yang menyelimuti tubuhnya.
Sahabat, berapa usia kita sekarang?
Belasan atau puluhan tahun ya!? Berarti selama itu pula ayah dan ibu kita tak
berhenti merasa bahagia ketika kita membuat mereka bangga. Mereka tak berhenti
merasa khawatir ketika hari sudah malam tapi kita tidak memberikan kabar
keberadaan kita. Mereka tak pernah absen mendoakan segala kebaikan di dunia dan
akherat bagi kita. Mereka tak pernah surut memberikan rasa kasih sayangnya, tak
pernah padam, meski saat kita mengecewakan mereka. Sebesar itulah rasa cinta
yang ayah ibu miliki untuk kita anaknya, tanpa pernah berharap balasan apapun
dari kita.
Bagi kita yang masih memiliki keduanya
di dunia ini, sering-seringlah mencium tangan mereka, menghabiskan waktu
bersama mereka, memenuhi apa-apa yang menjadi keinginan keduanya. Bahagiakanlah
mereka segera. Bagi yang salah satu atau keduanya sudah berpulang, jangan patah
semangat, masih bisa kita membalas jasa ayah ibu, yaitu dengan mendoakan
keduanya setiap saat kita berdoa, mintakan ampunan, keselamatan dan perlindungan
atas mereka kepada Yang Kuasa.
Langganan:
Postingan (Atom)

